Bandar Lampung( BegawiNews.com)-Pemerintah Provinsi Lampung menggelar rapat koordinasi mitigasi fenomena El Nino 2026 di Gedung Pusiban, Kantor Gubernur Lampung, Jumat (10/4/2026). Rapat ini menjadi langkah strategis dalam merespons potensi kemarau ekstrem yang diperkirakan berdampak luas terhadap sektor pertanian, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa fenomena El Nino tahun ini—yang disebut sebagai “El Nino Godzilla”—telah mendapat peringatan serius dari pemerintah pusat dan berpotensi mengganggu produksi pangan nasional, khususnya di Lampung sebagai salah satu lumbung pangan utama.
“Kita telah mendapat peringatan bahwa fenomena ini akan sangat mempengaruhi produksi pangan. Oleh karena itu, keseriusan dalam mitigasi sangat diperlukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, produksi gabah Lampung pada tahun sebelumnya mencapai 3,2 juta ton atau setara sekitar 1,7 juta ton beras. Dengan konsumsi daerah yang tidak lebih dari 800 ribu ton per tahun, Lampung selama ini menyuplai sekitar 900 ribu ton untuk kebutuhan luar daerah.
“Ini menunjukkan bahwa tanggung jawab kita tidak hanya untuk masyarakat Lampung, tetapi juga daerah lain yang bergantung pada kita,” jelasnya.
Gubernur juga mengingatkan bahwa dampak El Nino dapat menimbulkan efek berantai terhadap sektor ekonomi. Penurunan produksi jagung, misalnya, akan berdampak pada industri pakan ternak, yang berujung pada kenaikan harga komoditas seperti ayam dan telur.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kesiapan dan koordinasi seluruh kepala daerah dalam menghadapi potensi krisis. “Nasib jutaan masyarakat bergantung pada langkah yang kita ambil hari ini,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menyampaikan bahwa berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino diperkirakan mulai terjadi pada Mei 2026, dengan puncak kemarau pada Juli hingga September.
“El Nino ini berpotensi menimbulkan kemarau ekstrem. Ini harus disikapi dengan langkah nyata sejak sekarang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dampak El Nino berpotensi meluas ke berbagai sektor, termasuk pertanian, hortikultura, perkebunan, serta permukiman yang berisiko mengalami krisis air bersih. Kondisi cuaca kering juga dapat meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Untuk itu, pemerintah daerah diminta melakukan langkah mitigasi terpadu lintas sektor. Di bidang pertanian, langkah yang disiapkan antara lain percepatan tanam April–Juni, penggunaan varietas tahan kekeringan, pompanisasi, serta optimalisasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Di sektor sumber daya air, upaya yang dilakukan meliputi revitalisasi embung dan sumur bor, distribusi air bersih, serta penyediaan irigasi darurat dengan melibatkan berbagai instansi terkait.
Selain itu, kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga ditingkatkan melalui pembentukan satuan tugas, patroli hotspot, serta penegakan larangan pembakaran lahan.
Di sektor kesehatan, koordinasi antara dinas kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan diperkuat untuk mengantisipasi peningkatan kasus ISPA serta memastikan ketersediaan air bersih dan sistem surveilans berjalan optimal.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Lampung, Indra Purna, menjelaskan bahwa saat ini Lampung berada pada fase pancaroba, ditandai dengan potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, hingga puting beliung.
Ia memproyeksikan musim kemarau mulai terjadi pada Mei 2026, dimulai dari wilayah selatan dan timur, kemudian meluas ke wilayah tengah dan barat, dengan puncak pada Agustus hingga September.
“Curah hujan diperkirakan berada di bawah normal. Bahkan di bebera.(*/Red)






















