Bandar Lampung(BegawiNews.com)-menghadirkan tontonan. Ada pesan konservasi yang harus dibawa pulang setiap wisatawan: bahwa gajah bukan properti, bukan sekadar atraksi, melainkan satwa liar yang memiliki naluri, ruang dan hak untuk hidup.
Maka, wajah baru TNWK nantinya bukan hanya soal bangunan yang lebih bagus atau fasilitas wisata yang lebih modern. Ada pekerjaan yang jauh lebih dalam: mengubah cara manusia berhadapan dengan gajah, dari saling menghalau menjadi belajar berbagi ruang.
Di sana, barangkali masa depan TNWK menemukan jalannya: gajah tetap menjadi gajah, hutan tetap menjadi rumahnya, dan manusia memperoleh manfaat tanpa harus merampas ruang kehidupan satwa.
*Menjaga Hutan, Menjaga Masa Depan*
Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengimbau seluruh pihak, termasuk masyarakat, untuk bersama-sama menjaga kelestarian kawasan konservasi dari berbagai ancaman.
Ia mengingatkan agar tidak ada lagi perburuan liar, perambahan maupun pembakaran lahan yang dapat mengancam ekosistem TNWK.
“Sama-sama menjaga Taman Nasional ini. Kita pelihara, tidak ada lagi yang melakukan perburuan liar, tidak ada lagi perambahan, tidak ada lagi yang membakar lahan, sehingga lahan ini bisa sama-sama kita jaga, tidak ada lagi kebakaran,” pungkasnya.
Sebab, ketika hutan terjaga, bukan hanya gajah yang punya masa depan. Di sekelilingnya, ada manusia yang menggantungkan hidup, ada desa yang berharap tumbuh, dan ada generasi yang kelak ingin melihat gajah berjalan bebas di tanah kelahirannya. (*/Red)





















